saya menulis, kamu membaca dan kamu menilai saya ^_^

Jumat, 27 April 2012

Manajemen Perencanaan sekolah


I.         PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan. Kegiatan ini di maksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefesien mungkin (Roger A. Kauffman, 1972). Dalam setiap perencanaan selalu terdapat 3 kegiatan yang tidak bisa dipisahkan yaitu, perumusan tujuan yang ingin dicapai, pemilihan program untuk mencapai tujuan itu, serta identifikasi dan pengerahan yang sumbernya terbatas.
Perencanaan merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakan, apa yang harus dikerjakan dan sispa yang mengerjakan.perencanaan sering juga jembatan yang menghubungkan kesenjangan atau jurang antara keadaan masa kini dan keadaan yang diharapkan terjadi pada masa yang akan datang. Meskipun keadaan masa depan yang tepat itu sukar diperkirakan, karena banyak factor di luar pengusaan manusia yang berpengaruh pada rencana. Tetapi tanpa perencanaan kita akan menyerahkan keadaan pada masa yang akan datang itu kepada kebetulan-kebetulan.
Untuk itu perencanaan membutuhkan data dan informasi agar keputusan yang diambil tidak lepas kaitannya dengan masalah yang dihadapi pada masa yang akan datang. Perencanaan yang baik hendaknya memperhatikan sifat-sifat kondisiyang akan datang, dimana keputusan dan tindakan efektif dilaksanakan.
Dengan demikian yang di maksud dengan perencanaan pendidikan adalah keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan selama waktu tertentu agar penyelenggaraan system pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien serta menghasilkan lulusan yang lebih bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.
Dari latar belakang tersebut, maka kami penulis mengambil judul “ Perencanaan Pendidikan”.


1.   2  Rumusan masalah
(1)     Apakah Pengertian, Tujuan dan Manfaat Perencanaan Pendidikan?
(2)     Apa saja Fungsi, Karakteristik, Unsur ,dan Perenca dalam  Perencanaan pendidikan?
(3)     Apa saja Model dan Metode Perencanaan Pendidikan?
(4)     Bagaimanakah Syarat dan Langkah Perencanaan Sekolah?
(5)     Apa saja Hambatan – Hambatan dalam Perencanaan Pendidikan?
(6)     Apakah Jenis dan Jenjang dalam Perencanaan Pendidikan?
(7)     Bagaimana Langkah-langkah Perumusan Operasional Rencana Sekolah?
(8)     Bgaimanakah Persiapan Praktik Perencanaan Sekolah?

1.   3  Tujuan
(1)     Untuk mengetahui Pengertian, Tujuan dan Manfaat Perencanaan Pendidikan. 
(2)     Untuk mengetahui Fungsi, Karakteristik, Unsur ,dan Perenca dalam  Perencanaan pendidikan.
(3)   Untuk mengetahui Model dan Metode Perencanaan Pendidikan.
(4)     Untuk mengetahui Syarat dan Langkah Perencanaan Sekolah.
(5)     Untuk mengetahui Hambatan – Hambatan dalam Perencanaan Pendidikan.
(6)     Untuk mengetahui Jenis dan Jenjang dalam Perencanaan Pendidikan.
(7)     Untuk mengetahui Langkah-langkah Perumusan Operasional Rencana Sekolah.
(8)     Untuk mengetahui Persiapan Praktik Perencanaan Sekolah.

II.      PEMBAHASAN
2.1    Pengertian, Tujuan dan Manfaat Perencanaan Pendidikan
1.        Penertian Perencanaan Pendidikan
a.       William H. Newman dalam Abdul Majid :
Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian – rangkaian putusan yang luas dan penjelasan – penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode – metode dan prosedur – prosedur tertentudan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari – hari.
b.     Ulbert Silalahi :
 perencanaan merupakan kegiatan menetapkan tujuan serta merumuskan dan mengatur pendayagunaan manusia, informasi, finansial, metode dan waktu untuk  memaksimalisasi efisiensi dan evektivitas penapaian tujuan.
c.      Andreson (1961):
Perencanaan adalah keputusan bagi berbuatan di masa mendatang.
d.     Sehertian (1985):
Perencanaan adalah langkah persiapan yang diarahkan kepada tujuan yang bertitik kulminasi pada suatu keputuasan yang berfungsi sebagai landasan bagi langkah tindakan selanjutnya.
e.      Nawawi (1985):
Perencanaan adalah menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu.
f.      Lembaga Administrasi Negara mendefinisikan Perencanaan sebagai berikut  :
·         Perencanaan dalam arti seluas – luasnya tidak lain adalah suatu proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai sutu tujuan tertentu.
·         Perencanaan adalah proses penentuan tujuan , penentuan kegiatan, dan penentuan aparat pelaksanaan kegiatan,untuk mencapai tujuan.
·      Perencanaan adalah usaha yang diorganisasikan dengan dasar perhitungan untuk memajukan perkembangan tertentu.
g.     Definisi perencanan yang lebih luas dikemukakan oleh Bintaro Tjokroamidjojo sebagai berikut :
·         Perencanaan dalam arti seluas – luasnya tidak lain adalah suatu proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
·         Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik – baiknya ( Maksimum output ) dengan sumber – sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif
·         Perencanaan adalah penentuan tujuan yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana bilamana dan oleh siapa.

Dari dua pengertian diatas dalam suatu perencanaan terdapat lima hal pokok sebagai berikut :
a.        Tujuan yang hendak dicapai
b.        Rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis untuk tercapainya tujuan
c.     Sumber daya manusia yang akan melaksanakan rencana yang disusun untuk   mencapai tujuan serta sumber daya lainnya yang digunakan
d.      Janga waktu kapan rencana akan dilaksanakan dan diselesaiakan.
e.       Penafsiran rencana kedalam program nyata erta mudah diaplikasikan tahap demi tahap.
Perencanaan sering dikaitkan dengan bidang-bidang pembangunan yang dilakukan oleh suatu bangsa dan negara. Salah satuya bidang pembangunan yang dilakukan oleh suatu bangsa dan negara demi kemajuan dan kejayaan bangsa dimasa yang akan datang adalah perencanaan pendidikan.
Banyak konsep yang dikemukakan oleh para ahli mengenai rumusan perencanaan pendidikan sebagai berikut:
a.       C.E.Boeby
 perencanaaan pendidikan adalah suatu usaha melihat kemasa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan, prioritas dan biaya pendidikan dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam kegiatan ekonomi, sosial dan politik untuk pengembangan potensi sistem penddikan nasional,memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik  yag dilayani oleh sistem tersebut.
b.      Guruge
 perencanaan pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan dimasa depan dalam bidang pembagunan pendidikan adalah tugas perencanaan pendidikan
c.       Menurut Comb
perencanaan pendidikan merupakan aplikasi analisis rasional dan sistematik dalam proses pengembangan pendidikan yang bertujuan meningkakan efektivitas dan efisiensi pendidikan dalam usahanya memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan(pendidikan) babk tujuan yang berhubungan dengananak didik maupun masyarakat.
d.      Albert Waterson
perencanaan pendidikan adlah investasi pendidikan yang dapat dijalankan dan kegiatan-kagiatan pembangunan lain yang didasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.
e.       Yusuf Enoch
perencanaan pendidikan merupakan suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi masalah yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tuuan pembangunan pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada dibidang sosial ekonomi, sosial budaya dan kebutuhan pembangunan secara menyeluruh terhadap pendidikan nasional.
Dari beberapa pengertian diatas dalam perencanaan pendidikan terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
a.       Usaha melihat kemasa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan, prioritas dan biaya pendidikan dengan mengembangkan sistem pendidikan nasional.
b.      Merupakan proses mempersiapkan kegiatan dimasa depan dalam bidang pembangunan pendidikan.
c.       Kegiatan investasi jangka panjang yang baru bisa dinikmati hasilnya pada tahun-tahun atau generasi-generasi yang mendatang.
d.      Merupakan suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan yang bersifat perencanaan makro, meso maupun mikro; jangka panjang, jangka menengah, jangka penek; strategik, manajerial, maupun operasional; perbaikan atau pengembangan, serta pastisipatory.
e.       Dalam perencanaan pendidikan didasarkan pada prinsip efektivitas dan efsiensi, dengan memperhatikan aspek ekonomi dan penggalian sumber-sumber pembiayaan pendidikan, alokasi biaya, penyiapan tenaga kerja.
f.       Perencanaan pendidikan bersaha memenuhi kebutuhan akan ketrampilan hidup peserta didik dimasa yang akan datang baik yang bersifat lokal kedaeran, nasional, regional maupun inernasional.
Keberhasilan perencanaan pendidikan suatu bangsa bergantung keada cara, sifat dan proes pengambilan keputusan yang diambil para perencana pendidikan yang didasarkan pada tujuan pembangunan nasional serta strategi dan kebijakan operasional pendidikan. Dalam penentuan kebijakan pendidikan mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan perlu memperhatikan, siapa yang memegang kekuasaan merencanakan, siapa yang dapat menentukan keputusan dalam perencanaan pendidikan siapa yang akan diserahi tugas untuk melaksanakan perencanaan pendidikan yang telah dibuat serta faktor- faktor apa saja yang harus diperhatiakn dalam pengambilan keputusan serta mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan yang dibuat.
2.        Tujuan perencanaan pendidikan
Banyak tujuan yang  hendak dicapai dari perencanaan pendidikan sebagai berikut :
a.       Menyediakan rancangan keputusan-keputusan pejabat perencana pendidikan yang bewewenang tingkat daerah maupun tingkat  nasional.
b.      Membuat pola dan program kegiatan secara matang bagi berbagai bidang/ satuan kerja yang bertanggung jawab melaksanakan kebijaksanaan yang telah dirumuskan.
c.       Menyajikan fakta-fakta dan data agar dapat diterima dengan berorientasi pada masa depan.
d.      Menyakinkan secara logis dan rasional dan sistem kepada stake holde pendidikan tentang rencana pendidikan yang telah dibuat.
3.        Manfaat perencanaan pendidikan
Menurut Sa’ud dan Makmum perencanaan memiliki arti peting sebagai berikut:
a.       Dengan adanya perencanaan diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan.
b.      Dengan perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan(forecasting) terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan dilakukan mengenai potensi-potensi dan prospek- prospek perkembangan tetapi juga mengenai han=mbatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidak pastian dapat dibatasi sedini mungkin.
c.       Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alernatif tentang cara terbaik (the best alternatif) atau kesematan untuk memilih kombinasi cara terbaik (the best combination)
d.      Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas. Memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran memilih urutan –urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan usahanya.
e.       Denganadanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standart untuk mengadakan pegawasan atau evaluasi kinerja usaha atau organisasi, termasuk pendidikan.
  Perencanaan pendidikan sangat dibutuhkan, karena bermanfaat untuk:
a.      Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
b.      Sebagai pola dasr dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
c.      Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur baik unsur guru maupun unsur murid pada lembaga pendidikan.
d.     Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan. Sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan keterlambatan kerja.
e.      Untuk bahan penyusunan data agar  terjadi keseimagan kerja.
f.       Untuk menghemat biaya, waktu, tenaga, dan alat-alat.

2.2    Fungsi, Karakteristik,Unsur ,dan Perenca Perencanaan pendidikan.
1.        Fungsi perencanaan pendidikan sama seperti fungsi perencanaan pada umumnya yaitu:
a.      Merupakan pola dasar dan petunjuk pengambilan keputusan tentang jalan yang harus ditempuh dan bagaimana mencapai tujuan tersebut.
b.      Pedoman pelaksanaan dan pengendalian pelaksanaan pendidikan
c.      Menghindari pemborosan sumber-sumber daya manusia maupun sumbe daya non manusia
d.     Alat pengembangan penjamin mutu pendidikan
e.      Upaya untuk memenuhi dan mewujudkan transfaransi dan akuntabilitasi lembaga pendidikan.
f.       Mempersapkan keputusan-keputusan atau alternatif-alternatif kebijaksanaan yang bersifat strategis untuk kegiatan masa depan dalam pembangunan pendidikan.

2.         Karakteristik Perencanaan pendidikan
 Menurut saud perencanaan pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.      Suatu proses rasional, dikarakteristikan sebagai pengembangan yang terorganisasi dari kegiatan pembelajaran masyarakat
b.      Menyangkut tujuan sosial, cara dan tujuan, proses- proses dan kontrol
c.      Merupakan rancangan konseptual dimana kebijakan dan tindakan dibuat oleh kelompok.
d.     Konsep dinamis yang menjamin suatu rencna dikonstruksikan dengan lentur sehingga tidak mungkin terjadi penyimpangan
      Sedangkan menurut Banghart dan trull dalam Harjanto bahwa terdapat beberapa karakteristik perencanaan pendidikan yaitu:
a.       Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan sosial dan konsep-konsepnya yang dirancang oleh banyak orang
b.      Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.
c.       Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya, namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan.
d.      Perencanaan pendidikan berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah dalam managementnya.



3.        Unsur-unsur Perencanaan Pendidikan
Bina mitra Pembinaan Madrsah melihat unsur perencanaan pendidikan dari segi prosesnya meliputi :
a.      Tujuan
Tujuan merupakan sesuatu yang  ingin dicapai dan merupakan landasan atau arah dari semua langkah –langkah yang akan dilakukan oleh sebuah organisasi . dan tujuan khusus adalah rumusan tujuan yang bersifat konfrehensif dan ditentukan berdasarkan sektor atau program yang akan dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan umum.
b.      Data dan Informasi
Data dan informasi merupakan keterangan-keterangan mengenai sesuatu yang dapat dijadikan sebagai sumber dalamperencanaan pendidikan. Data dan informasi diperlukan tidak hanya pada saat proses perencanaan, tetapi juga digunakan sebagai alat untuk mengendalikan dan alat untuk mengadakan penyesuaian rencana serta sebagai alat evaluasi rencana itu sendiri.
c.      Analisis
Analisis merupakan langkah-langkah mempelajari pokok masalah melalui pemikiran yang sistematis logis dan pengajian sampai kepada unsur-unsurnya. Analisis dapat dilakukan secara linier yaitu menggunakan hukum sebab akibat dalam rangka melihat hubungan antar variabel.Analisis dapat dilakukan secara non liner yaitu membandingkan isi, ukuran jenis, waktu dan sebagainya. Dan analisis yang dapat dilakukan secara tematik dan dinamik, yaitu analisis yang dilakuakn secara tidak langsung terhadap objek yang menjadi sasaran analisis.
d.      Kebijakan
Kebijakan merupakan ketentuan-ketentuan atau keputusan-keputusan yang bersifat menyeluruh mengenai langkah-langkah yang dilakukan dalam memecahkan suatu permasalahan. Dalam penentuan batas-batas objek atau tujuan, menentukan pasyarat tentang cara yang akan digunakan, membuat ketentuan-ketentuan tentang  pencapaian tujuan dan sasaran, serta menentukan arah dan motivasi serta target yang hedak dicapai.


Dan menurut Suardi Atmodiwirio unsur-unsur perencanaan pendidikan meliputi: unsur kualitas intersektoral, interdepartmental dan kewilayahan.
a.      Unsur Kualitatif
Dalam unsur Kualitatif perencanaan pendidikan melihat pada kualitas dan keberhasilan perencanaan pendidikan yang dapat dilihat dari komponen atau sub sistem pendidikan yang meliputi, peserta didik tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, jumlah gedung sekolah. Kualitas pendidikan sendiri ditandai dengan outcome yang berkualitas dan produktif yang mencerminkan yang ada khususnya disekolah dengan dunia industri, jasa dan perdagangan serta permintaan akan kebutuhan masyarakat.
b.      Unsur intersektoral
Unsur intersektoral menyadarkan bahwa dalam perencanaan pendidikan harus memperhatikan sector-sektor lain seperti sector ekonomi, politik , sosial budaya dan sebagainya yang membawa kepada konsekwensi berupa keharusan untuk menyelarakan sector perencanaan pendidikan dengan sector-sktor lainnya.
c.      Unsur interdepartemental
Bahwa dalam perencanaan pendidikan tidak hanya melibatkan satu departemen atau kementrian saja tapi melibatkan atau mungkin seluruh departemen atau kementrian yang ada. Misalnya berkaitan dengan anggaran yang disediakan harus berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan dan Departeman Keuangan, berkaitan denan materi pelajaran agama berkoordinasi denan departeman Agama serta membutuhkan Departemen-Depaertemen tertentuk untuk direkrut menjadi pegawainya.
d.     Unsur kewilayahan
Bahwa dalam perencanaan pendidikan harus memperhatikan unsure geografis, topografis serta cirri khas wilayah masing-masing dengan segala macam potensi yang dimilikinya. Sehingga dalam perencanaan pendidikan harus memperhatikan aspek geografis dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian  antara program pendidikan yang akan dikembangan dengan cirri khas geografis program pendidikan yang berciri kewilayahan.


4.        Perencana Perencanaan Pendidikan
Perencana pendidikan adalah semua petugas pendidikan mulai dari tingkat yang paling atas (Pemerintah Pusat) sampai dengan perencana pendidikan sebagai pelaksana lapangan yaitu kepala sekolah dan guru. Secara lebih rinci petugas perencanaan pendidikan di kategorikan sebagai berikut:
a.      Petuagas perencana pada tingakat pusat (Presiden, BAPPENAS, mentri sekjen, dirjen, biro perencanaan).
b.      Petugas perencanaan pada tingakat provinsi (Gubernur, BAPPEDA, kepala dinas, kepala sub dinas).
c.      Petugas perencanaan pada tingkat kabupaten/kota (Bupati/ Wali kota,BAPPEDA, kepala dinas, kepala sub dinas).
d.     Petugas perencanaan pada tingakat sekolah (Kepala sekolah dan guru).
Menurut Jumberensyah Indar seorang perencana Pendidikan juga diharapkan dan dituntut untuk:
a.      Mempunyai kemampuan dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penyusunan rencana.
b.      Mampu menganalisis data pendidikan ke dalam, menjadi bahan informasi dan menjabarkan rencana ke program pendidikan.
c.      Mampu menerjemahkan implikasi rencana ekonomi ke dalam sector pendidikan.
d.     Memiliki pengetahuan dan mampu mengadakan analisis dengan menggunakan rumus-rumus statistikauntuk memperhitungkan kebutuhan dalam penyelenggaraan pendidikan seperti p[erhitungan proyeksi penduduk, tenaga kerja output pendidikan dan sebagainya.
e.      Mampu menterjemahkan kebijakan dan menjabarkan ke dalam rencana, program dan proyek-proyek serta kegiatan-kegiatan dalam pendidikan.  
Agar perencanaan pendidikan yang dihasilkan cukup komperhensif, seorang perencana pendidikan dalam merencanakan pendidikan perlu berkonsultasi kepada para ahli yang menguasai bidang tersebut serta meminta bantuan dan memanfaatkan konsultan-konsultan pendidikan.

2.3    Model dan Metode Perencanaan Pendidikan
 1.   Model-model  Perencanaan pendidikan
Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa model perencanaan pendidikan. Beberapa model perencanaan pendidikanyang atut diketahui antara lain :
a.         Model perencanaan komprehensif
Model ini terutama digunakan untuk menganalisis perubahan- perubahan  dalam sistem pendidikan secara keseluruhan. Disamping itu berfungsi sebagai suatu patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik  kearah tujuan-tujuan yang lebih luas.
b.         Model Target setting
Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya dikenal 1) Model untuk analisis demografis dan proyeksi penduduk, 2) model untuk memproyeksikan enrolmen (jumlah siswa terdaftar) sekolah, 3) model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.
c.         Model costing( pembiayaan) keefektifan biaya
Model ini sering dignakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisien dan efektifitas ekonomis. Dengan model ini dapat diketahui proyek yang paling fisibel dan emberikan suatu perbandingan yang paling baik diantara proyek-proyek yang menjadi alternatif penanggulangan masalah yang dihadapi.Penggunaaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbanga bahwa pendidikan itu tidak terlepas pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Dan, dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.
d.        Model PPBS
PPBS( planning, progamming, budget system) dalam bahasa indonesia adalah sistem perencanaan, penyusunan program(SP4). Model ini bermakna bahwa perencanaan, penyusunan program dan penganggaran dipandang sebagai suatu sistem yang tak terpisahkan satu sama lainnya. PPBS merupaka suatu proses yang komprehensif untuk mengambil keputusan yang lebih efektif. Berdasarkan kedua pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan
1)        PPBS merupakan pendekatan yang sistematik.Oleh karena itu, untuk menerapkan PPBS diperlukan pemahaman tentang konsep dan teori sistem.
2)        PPBS merupakan suatu proses perencanaan komprehensif. Penerapan hanya dimungkinkan untuk masalah-masalah yang kompleks dan dalam organisasi yang dihadapkan pada masalah yang rumit dan komprehensif.
Untuk memeahami PPBS secara baik, maka perlu kita perhatika sifat-sifat esensial dari sistem ini. Esensi dari PPBS adalah sebagai berikut :
1)        Memperinci seara cermat dan menganalisis secara sistematik terhadap tujuan yang hendak dicapai.
2)        Mencari alternatif-alternatif ang relevan, cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan.
3)        Menggambarkan biaya total dari setiap alternatif, baik biaya langsung maupun tidak langsun, biaya yang berupa uang maupun biaya yang tidak berupa uang.
4)        Memberikan gambaran tentang efektivitas setiap alternatif dan bagaimana alternatif iu mencapai tujuan.
5)        Membandingkan dan menganalisis alternatif terseut, yaitu mencari kombina
2.    Metode metode perencanaan.
a.         Metode mean always and analysis (analisis mengenai alat-cara-tujuan).
Metode ini menggunakan untuk menganalisis sumber-sumber dan alternatif untuk mencapai tujuan teretentu. Tiga hal yang perlu di analisis yaitu means berkaitan dengan sumber yang diperlukan, ways yang berhubungan dengan cara, dan ends yang berhubungan dengan tujuan yan hendak dicapai.
b.         Metode input output analysis (analisis masukan dan keluaran).
Metode ini dilakukan dengan mengadakan pengkajian terhadap interelasi dan interpendensi berbagai komponen masukan dan keluaran dari suatu sistem.
c.         Metode econometric analysis (analisis ekonometrik).
Metode ini menggunakan data empirik, teori ekonomi dan statistika dalam mengukur perubahan dalam kaitan ekonmi dengan mengembangkan persamaan persamaan yang menggambarkan hubungan ketergantungan diantara variabel-variable yang ada dalam suatu sistem
d.        Metode cause-effect diagram ( diagram sebab akibat).
Metodi ini dipergunakan dalam perencanaan dengan mengunakan skuen hipotetik untuk memperoleh gambaran tentang masa depan.
e.         Metode delphi.
Metodeini digunakan bertujuan untuk menentukan sejumlah lternatif program mengeksplorasi asumsi atau fakta yang melandasi judgements tertentu dengan mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai suatu konsensus.
f.          Metode heuristik.
Metode ini dirancang utnuk mengeksplorasi isu-isu dan utnuk mengakomodasi pandangan pandangan yang bertentangan atau ketidakpastian. Berdasarkan seperangkat prinsip prosedur yang mensistemtiskan langkah-langkah dalam usaha pemecahan masalah.
g.         Metode analisis siklus kehidupan.
Metode ini digunakan untuk mengalokasikan sumber-sumber dengan memperhatikan siklus kehidupan mengenai produksi,proyek,program aktifitas =. Dalam kaitan ini seringkali digunakan bahan-bahan kooperatif dengan menganalogkan data, langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ini dalah, ase konseptualisasi,fasespesifikasi, fase pegembangan prototipe, fase pengujian evaluasi, fase operasi, fase produksi.
h.         Metode value added analysis.
Metode ini digunakan untuk megnukur keberhasilan peningkatan produksi atau pelayanan. Dengan demikian kita dapat mendapatkan gambaran singkat tentang kontribusi dari aspek tertentu terhadap aspek lainnya.

2.4    Syarat dan Langkah Perencanaan Sekolah.
1.        Syarat-syarat Perencanaan Sekolah.
Agar perencanaan sekolah dapat dilakukan dengan baik, ada beberpa persyaratan yang perlu dipenuhi, yaitu:
a.       Terarah pada pencapaian tertentu. Setiap perencanaan yang dilakukan haruslah mengacu kepada pencapaiantujuan tertentu. Maksudnya adalah bahwa segala hal yang dilakukan dalam perencanaan tersebut haruslah mengacu pada pencapaian tujuan sekoah.
b.      Berangkat dari data. Data yang dimaksud, meliputi data tentang sekolah, data tentang anak didik dan calon anak didik, serta data tentang orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah. Sehingga perencanaan yang dibuat tidak sekedar anggan-anggan  tetapi berdasarkan kondisi dan situasi yang se riil mungkin.
c.       Dilakukan oleh orang-orang yang mampu membuat rencana. Ini sangat penting karena perencanaan termasuk aktivitas manajemen. Profesionalitas orang-orang yang merencanakan, akan berpengaruh terhadap rencana yang akan dibuat.
d.      Melibatkan keseluruhan komponen sekoah, yaitu seperti pengiurus yayasan (jika sekolah swasta), pengawas sekolah kepala sekolah, guru, karyawan/wati, ketua dewan sekolah, tokoh masyarakat, ahli manajemen pendidikan di sekolah.
e.       Jelas, yaitu perencanaan yang dibauat benar-benar dapat dilaksanakan. Oleh karena itu perencanaan hendaknya dijabarkan secara lebih detail dan terperinci, gar para pelaksana tidak kesulitan dalam mencerna.
f.       Akomodatif, yaitu bahwa perencanaan yang dibuat masih memungkinkan menampung perkembangan baru, mendadak, dan minta segera dipecahkan. Ini sangat penting karena dalam dunia pendidikan banyak hal yang terduga yang minta segera dipecahakan.
g.      Berorientasi pada masalah, yaitu bahwa perencanaan haruslah berorientasi pada masalah yang seobyektif mungkin. Dengan demikian ada upaya untuk memecahkan, masalah-masalah sekolah, yang setiap saat sentiasa berkembang.

2.        Langkah-langkah Perencanaan Sekolah.
Ada beberapa langkah dalam perencanaan yaitu:
a.       Forcasting.
Forcasting adalah membuat prakiraan dengan mengantisipasi ke depan yang didasarkan pada factor-faktor organisasi pendidikan baik yang bersifat kondisional maupun situasional. Ada tiga dimensi waktu yang di jadiakan perkembangan yaitu lampau, kini dan yang akan datang. Masa lampau dan masa kini dalam organisasi pendidikan, dengan segala factor kondisional dan situasional dapat dikaji terlebih dahulu sebelum hal-hal yang akan dilakukan tersebut dirumuskan. Dengan demikian apa yang ada pada masa lampau dan masa kini yang berhasil dapat di ulangi, dan yang gagal dapat digunkan sebagai pelajaran. Gambaran perkembangan masa depan sekoah perlu diproyeksikan, agar tidak kehilangan arah ketika bermaksud untuk merumuskannya. Bagaimanakah kualitas sekolah yang diinginkan di masa depan juga dapat digambarkan dalam forcasting ini.
b.      Objektif.
Objektif adalah perumusan tujuan. Berdasarkan prakiraan dengan antisipasi ke depan tersebut barulah di identifikasi tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Penggolongan tujuan tersebut bermacam-macam sesuai dengan sudut kepentingan, lingkup, cakupan, dan tingkat lembaga pendidikan. Jika dalam skala nasional penggolongan tersebut adalah tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.Di dalam dunia pendidikan sendiri urutan tujuan adalah tujuan nasional, tujuan pembangunan nasional, tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan umum pengajaran, tujuan khusus pengajaran. Tujuan ini senantiasa harus dirumuskan, agar segala kegiatan yang akan dilakukan tersebut betul-betul mengarah pada tujuan yang sama.Jika langkah objektif ini diimplementasikan untuk kondisi sekolah maka setiap sekoalh haruslah merumuskan tujuan institusionalnya masing-masing sesuai dengan cirri khas masing-masing sekolah.
c.       Policy.
Policy adalah perumusan kebijaksanaan. Kegiatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi kegiatan-kegiatan seperti
Tujuan Nasional                                        Periksa UUD 1945
Tujuan pembanguanan Nasional               Periksa GBHN terbaru
Tujuan Pendidikan Nasional                     periksa GBHN terbaru, UUSPN 1989, PP no 27, 28 29 dan 1990
Tujuan Institusional Sekolah                     periksa PP no 27,28, dan 29, 1990, Serap Aspirasi masyarakat, periksa GBPP sekolah.
Tujuan kurikuler                                        Periksa GBPP Sekolah
Tujuan Umum Kegiatan Belajar               periksa GBPP Sekolah dan karakteristik tiap anak.
d.      Programming.
Programming atau pemrograman adalah seleksi atas kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan pada langkah policy. Seperti misalnya mengapa kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan? Apakah kegiatan tersebut mungkin untuk dilaksanakan berdasarkan factor kondisional dan situasional organisasi atau lembaga pendidikan?
e.       Procedure.
Prosedur adalah merumuskan langkah-langkah, yang berarti bahwa kegiatan-kegiatan yang telah diseleksi dalam langkah programming tersebut diurutkan mana yang harus dikemudian. Dengan kata lain pilihlah kegiatan yang diprioritaskan dan kegiatan-kegiatan mana yang tidak menjadi prioritas.
f.       Schedule.
Schedule adalah penjadwalan setiap kegiatan-kegiatan yang sudah diprioritaskan tersebut. Jadwal ini perlu dibuat agar kegiatan-kegiatan yang sudah diurutkan pelaksanaannya menjadi konkrit kapan dilaksanakan dan siapa saja bertanggung jawab serta libat didalamnya.
g.      Budgeting.
Budgeting adalah pembiayaan. Dalam aktivitas ini ada dua kegiatan yang dilaksanakan ialah: alokasi anaggaran dan penentuan sumber anaggaran. Alokasi anggaran dibuat berdasarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan di susun serealistis mungkin. Setelah anggaran dialokasikan, sumber-sumber anggaran juga perlu ditetapkan. Sumber-sumber anggaran sekolah negeri berasal dari anggaran rutin, dana penunjang pendidikan, bantuan operasional peralatan, dewan dan lain-lain. Sedangkan untuk sekolah swasta berasal dari uang operasional sekolah, BP3, sussidi pemerintah, donatur yayasan dan sebagainya.

2.5    Hambatan – Hambatan dalam Perencanaan Pendidikan
Adapun hamnbatan-hambatan dalam perencanaan pendidikan meliputi:
a.       Politik
Perencanaan pendidikan merupakan bagian dari kebijakan politik yang dihasilkan dari proses politisasi antar berbagai kekuasaan dan kekuatan baik, di pemerintahan maupun dikalangan anggota DPR. Dan perencanaan pendidikan menjabarkan hasil kebijakan nasional yang telah digariskan yang merupakan hasil tawar menawar dari kekuatan politik yang ada baik di pemerintah maupun pada lembaga legisatif. Dan sering terjadi kebijakan politik mendahului kebijakan dibidang pendidikan sehingga kebijakan pendidikan merupakan penjabaran dari kebijakan politik.  

b.      Ekonomi
Dari aspek ekonomi perencanaan pendidikan sering harus menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Dan sering terjadi anggaran pendidikan yang disediakan dengan anggaran yang dibutuhkan tidak seimbang bahkan jauh dari yang seharusnya disedakan.
c.       Waktu
Dari aspek waktu perencanaan pendidikan masih terkendala pemisahan antara perencanaan jangka panjang yang bersifat strategis, menengah atau jangka pendek yang merupakan perencanaan rutin yang bersifat operasional atau tahuanan.
d.      Hukum
Dari aspek hokum yang menjadi kendala adalah karena sering terjadi suatau peraturan pelaksanaannya yang bersifat teknik belum atau lambat pembuatannya mualai dari peraturan pemerintah, keputusan presiden peraturan mentri sampai pada keputuasan memntri yang merupakan penjabaran yang bersifat teknik dan operasioanl untuk melaksanakan UUD maupun UU yang diptutskan secara politis antara pemerintah pusat denagn DPR atau antara pemerintah daerah dengan DPRD.
e.       Pimpinan
Kadang memiliki dan memaksakan rencana sendiri untuk dijadikan rencana organisasi atau satuan pendidikan. Pimpinan juga sering kurang mampu menjabarkan secara operasional atasrencana pendidikan yang dibuat.
f.       Keterlibatan Bnayak Sumber Daya Manusia
Keterlibatan SDM dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu, tingakt pengetahuan, pengalaman keterlibatan dalam perencanaan serta latar belakang budaya yang berbeda sering menyebabkan sering terjadinya perbedaan pendeapat dan pandangan serta kesulitan dalam menyatukan pendapat.

2.6    Jenis dan Jenjang Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan bila didasarkan pada jenis dan jenjang dapat dilihat dari beberapa segi sebagai berikut:
1.    Jenis Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Jangka Waktu.
Berdasarkan jangka waktu perencanaan pendidikan dapat dibedakan menjadi:
a.       Perencanaan Jangka Panjang
Perencanaan jangka panjang adalah rencana yang meliputi kurun waktu 10, 20, dan 25 tahun. Ukuran keberhasialan rencana jangka sangat umum, global dan belum terperinci. Makin panjang jangka waktu perencanaan  akan semakin sulit mengukur pencapaian variable dan parameternya. Perencanaan jangka panjang merupakan arah perencanaan jangka menengah maupun jangka pendek.
b.      Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan jangka menengah adalah rencana dengan kurun waktu antara 4-7 atau 5-10 tahun. Perencanaan jangka menengah merupakan usaha untuk menjabarkan perencanaan jangka panjang dan merupakan arah serta perlu di jabarkan dalam perencanaan jangka pandek.
c.       Perencanaan Jangka Pendek
Perencanaan jangka pendek merupakan rencana dengan kurun waktu antara 1 sampai 3 tahun. Perencanaan jangka pendek penatalaksanaannya bersifat rutin dan dikerjakan secara berulang-ulang dari tahun ke tahun.
Perencanaan jangka pendek dibagi kedalam 3 macam:
1). Perencanaan tahunan merupakan operasionalisasi dari perencanaan jangka menengah dengan mengadakan penyesuaian –penyesuaian seperlunya.
2). Perencanaan untuk mepecahan masalah-masalh yang sifatnya mendesak yang mungkin dapat diselesaikan dalam kurun waktu asatu atahun atau kurang dari satu tahun.
3). Perencanaan pelaksanaan tugas rutin denan kerun  waktu triwulan, bulanan, mingguan, bahkan juga harian, termasuk prosedur kerja dan metode kerja.

2.    Jenis Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Luas Jangkauannya atau menurut besarannya.
Berdasarkan luas jangkauannya atau menurut besarannya perencanaan dibedakan menjadi:
a.       Perencanaan Makro
Perencanaan makro adalah perencanaan yang menyeluruh untuk suatu Negara. 
b.      Perencanaan Messo
Perencanaan messo merupakan penjabaran perencanaan makro ke dalam program-program dan dimensi yang lebih kecil. Dalam perencanaan messo bersifat operasional di sesuaikan dengan kebutuhan daerah, departemen atau unit kerja.
c.       Perencanaan Mikro
Perencanaan mikro memiliki ruang lingkup terbatas, hanya untuk suatu lembaga. Perencanaan ini  terperinci, konkrit dan operasional mengacu kepada karakteristik lembaga, namun tidak bertentangan dengan perencanaan messo dan makro.

3.    Jenis Perencanaan  Pendidikan Berdasarkan Tealaahnya.
Perencanaan dari segi telaahnya dibedakan menjadi:
a.       Perencanaan Strategis.
Perencanaan strategis merupakan kegiatan menetapkan tujuan, pengalokasian sumber-sumber daya yang dibutuhkan.
b.      Perencanaan Manajerial.
Perencnaan manajerial adalah perencanaan yang bertujuan menggerakkan dan mengarahkan proses pelaksanaan secara efektif dan efisien.
c.       Perencnaan Operasional.
Perencanaan Operasional merupakan apa yang akan di kerjakan dan dilaksanakan dilapangan. Perencanaan ini bersifat konkrit, spesifik dan merupakan petunjuk teknis mengenai aturan, prosedurserta ketentuan-ketentuan lai yang telah ditetapkan.

4.    Jenis Perencanaan Pendidian Berdasarkan Rancangan Sistem.
Berdasarkan Perencanaan Pendidian Berdasarkan Rancangan Sistem dibedakan menjadi:
a.       Perencanaan perbaikan
Perencanaan perbaikan adalah perencanaan yang bertujuan memperbaiki system yang telah ada dengan tidak menambah atau mengurangi komponen system yang telah ada. Bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, efesiensi maupun efektifitas system yang telah ada.
b.      Perencanaan pengembangan
Perencanaan pengembangan merupakan perencanaan yang ditunjukkan untuk menambah dan meningkatkan jumlah keluaran system terbaru atau menambah jenis keluaran terbaru dengan cara menambah atau mengurangi komponen-komponen system yang sudah ada atau membuat lsub system yang  baru.

5.    Jenis Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Peran Pemerintah.
Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Peran Pemerintah dibedakan menjadi:
a.       Perencanaan Wajib.
Perencanaan wajib adalah perencanaan yang dilakukan oleh suatu badan yang memiliki kekuasaan penuh karena mendapat tugas dari pemerintah untuk menentukan sasaran, kebijakan, dan strategi pembangunan.
b.      Peeencanaan Arahan.
Perencanaana arahan adalah perencanaan yang hanya menunjukkan arah sasaran, petunjuk kebijakan dan strategi pembangunan. Arahan yang diberikan bersifat mengikat dan dan fungsinya sebagai nasihat.

6.    Jenis Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Orang Yang Terlibat.
Berdasarkan orang-orang yang terlibat dalam perencanaan pendidikan dapat dibedakan menjadi:
a.       Perencanaan Individual.
Perencanaan individual adalah perencanaan yang dilakukan oleh seorang individu yang melibatkan pihak-pihak lain. Perencanaan ini biasanya terjadi pada unit organisasi kecil atau oleh pimpinan dengan gaya kepemimipinan otoriter. Namun tetap membutuhkan masukkan-masukkan serta data dan informasi dari orang lain.
b.      Perencanaan Partisipatori.
Perencanaan partisipatori adalah perencanaan yang melibatkan beberapa atau kelompok orang. Dalam perencanaan partisipatori dilibatkan orang-orang yang berkepentingandan diadakan silang pendapat terhadap perencanaan yang sedang dibuat atas dasar tugas poko, kewenangan, kedudukan, serta fungsi masing-masing.

2.7    Langkah-langkah Perumusan Operasional Rencana Sekolah.
Guna lebih mengoperasionalkan langkah-langkah perumusan rencana sekolah, kita dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Sebab, perencanaan sekoalah berarti juga memecahkan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi sekolah. Adapun langkah-langkah operasional perencanaan sekolah yang menggunakan pendekatan pemecahan masalah tersebut adalah:
a.       Identifikasi masalah.
Identifikasi masalah dilakukan oleh sutu tim yang di bentuk oleh kepala sekolah, yang menyangkut substansi manajemen sekolah:
·         Kegiatan belajar mengajar
·         Kegiatan peserta didik
·         Kegiatan kependidikan sekolah
·         Prasarana dan sarana sekolah
·         Pendanaan sekolah
·         Partisipasi masyarakat
·         Layanan khusus sekolah
·         Ketatausahaan sekolah.
Identifikasi masalah ini dilakukan dengan cara mengeksplorasi permasalahan yang dihadapi oleh sekolah kepada pihak-pihak tertentu. Masalah-masalah yang diidentifikasi hendaknya yang seobjektif mungkun dan se riil mungkin.
b.      Identifikasi alternative penyebab.
berdasarkan permasalahan yang diidentifikasi, kemudian digali juga alternative penyebab munculnya masalah. Alternative penyebab masing-masing masalah tersebut hendaknya se riil mungkin.sebab jika alternative penyebab yang dikemukakan disini tidak riil maka alternative pemecahan  yang akan dipecahkan juga tidak riil.
c.       Identifikasi alternative pemecahan masalah.
Mengidentifikasi alternative pemecahan masalah, haruslah dipertimbangkan masalah danalternatif pemecahannya. Suatu maslah yang sama, dengan alternative penyebab yang berbeda, bisa membutuhkan alternative pemecahan yang berbeda dan bisa juga membutuhkan alternative pemecahan yang sama dan sebaliknya. Yang pasti semakin banyak alternative pemecahan masalah yang diajukan, akan semakin didapatkan alternative yang pemecahan masalah yang lebih tepat.
d.      Identifikasi factor pendukung.
Guna menentukan alternative pemecahan masalah yang tepat diperlukan factor-faktor pendukung yang berupa sumber-sumber potensial di sekolah tersebut. Adakalnya factor pendukung ini berasal dari dalam sekolah dan ada yang dari luar. Keduanya perlu diidentifikasi.
e.       Identifikasi factor penghambat.
Adanya  factor penghambat, dimaksudkan untuk dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan alternative yang tepat. Factor ini dapat bersumber dari luar maupaun dari falam sekolah dan ini perlu adanya identifikasi.
f.       Penentuan alternative terpilih.
Berdasarkan banyak factor pendukung dan penghambat, alternative-alternatif pemecahan masalah dapat dipilih. Alternative pemecahan masalah yang dipilih inilah yang terpilih.

2.8    Persiapan Praktik Perencanaan Sekolah.
Jika sekolah bermaksud mengadakan perencanaan misalnya program tahuanan, dapat diadakan rapat kerja (RAKER). Susunan ranker sendiri sebagai berikut:
a.       Bentuklah tim penyusun rencana. Tim ini dapat di bentuk oleh kepala sekolah atau ketua yayasan. Tugas tim adalah mengidentifikasi masalah beserta alternative penyebabnya.
b.      Bentuklah panitia raker., yang bertugas melaksanakan kegiatan raker dari awal sampai akhir.
c.       Lakukanlah raker dengan rencana atau program kerja sekolah sebagai berikut:
1.      Acara pembukaan:
·         Pembukaan
·         Sambutan ketua panitia
·         Pengarahan kepaa sekolah atau kepala yayasan.
·         Penyerahan acara inti raker
2.      Acara inti raker:
·         Pengantar oleh ketua tim penyusun rencana serta laporan hasil identifikasi masalah dan alternative penyebab yang telah digali
·         Penyampaian permasalahan oleh kepala sekolah/kepala yayasan
·         Penyampaian permasalahan oleh guru.
·         Penyampaian permasalahan oleh ketua dewan sekolah
·         Identifikasi masalah, Identifikasi alternative penyebab, Identifikasi alternative pemecahan masalah, Identifikasi factor pendukung, Identifikasi factor penghambat, Penentuan alternative terpilih. Pembahasan dapat dilakukan secara berkelompok
·         Presentasi dan tanggapan
·         Pembentukan tim perumus untuk menyusun rencana serta menghaluskannya.
·         Pembacaan kesimpulan sementara hasil raker
·         Penyerahan acara oleh tim penyusun rencana kepada panitia
3.      Acara penutupan:
·         Pembukaan oleh MC
·         Laporan ketua panitia
·         Sambutan oleh kepala sekolah/kepala yayasan sekaligus menutup acara secara resmi
4.      Menindaklanjuti acara raker:
·         Yim perumus menghaluskan hasil raker sehingga berbentuk rencana kerja tahuanan
·         Kepala sekoalah dan kepala yayasan mengesahkan rencana kerja sekolah
·         Program/rencana tersebut sudah dapat direaliasikan.


III.   PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Fungsi peertama manajemen sekolah adalah perencanaan sekolah. Yang dimaksud dengan perencanaan sekolah adalah meruskan terlebih dahulu apa saja yang akan dilakukan di sekolah. Tujuan dari perencnaan sekolah saah astunya adalah menyediakan rancangan keputusan-keputusan pejabat perencana pendidikan yang bewewenang tingkat daerah maupun tingkat  nasional. Agar perencanaan sekolah tersebut baik, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi : Terarah pada pencapaian tertentu, Berangkat dari data, Dilakukan oleh orang-orang yang mampu membuat rencana, Melibatkan keseluruhan komponen sekoah, Jelas, Akomodatif, dan Berorientasi pada masalah.langkah-langkah perencnaan sekolah adalah Forcasting, Objektif, Policy, Programming, Procedure, Schedule, dan Budgeting. Guna menyusun program tahunan sekolah perlu diadakan rapat kerja tahunan, dengan melibatkan seluruh komponene sekolah.

3.2    Saran  
(1)     Untuk kepala sekolah: supaya dapat merencanakan perencanaan sekolah dengan baik sesuai dengan kebutuhan sekolah.
(2)     Untuk guru: supaya guru dapat membantu memberikan pendapatnya untuk kebaikan dalam perencanaan sekolah kepada kepala sekolah.
(3)     Staf sekolah: supaya dapat membantu mensukseskan dan merefisi perencnaan sekolah.
Daftar Rujukan

Fattah, Nanang. 2011. Landasan Manajemen Penddikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Imron, Ali HB. 2004. Perspektif manajemen pendidikna berbasis sekolah. Malang: univ neg malang.
Syarifudin.  2011.  Manajemen Pendidikan.  Jakarta. : Diadit Media.
Tim Pakar Manajemen Pendidikan Universitas Negeri  Malang.  2002.  Manajemen Pendidikan  Wacana, Proses dan Aplikasinya di Sekolah.  Malang:  Universitas Negeri Malang.
www. perencanaan pendidikan. com
Diakses pada tanggal 8 Februari,  19.00

Tidak ada komentar: