saya menulis, kamu membaca dan kamu menilai saya ^_^

Selasa, 08 November 2011

MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN


1.      Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Peranan kurikulum dalam pembelajaran tidak dapat terlepas dari hubungan antara dua aspek, yakni kurikulum dan pembelajaran. Peranan tersebut memiliki implikasi dalam perkembangan pendidikan secara umum dan khusus. Melalui berbagai implikasi yang dihasilkan, bermunculan pula serangkaian model pengembangan yang disarankan sebagai peningkat keberhasilan mutu pendidikan.
Model pengembangan kurikulum dan pembelajaran muncul dari adanya keterkaitan yang relatif menurut beberapa ahli. Dengan berbagai teori yang dikemukakan, pengaruh kurikulum dan pembelajaran berdampak sangat relatif berdasarkan teori yang digunakan. Meskipun demikian, terdapat benang merah antara kurikulum dan pembelajaran dalam model manapun, karena pada hakikatnya kedua aspek tersebut tidak terpisahkan.
Berdasarkan pernyataan diatas, urgensi pengetahuan tentang model pengembangan kurikulum dan pembelajaran sangat tinggi terutama pada pelaku pendidikan mulai dari pejabat pembuat kurikulum hingga tenaga pengajar dan peserta didik. Oleh karena itu, makalah dengan judul “Model Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran” ini diharapkan mampu menjadi reverensi tambahan dalam kajian telaah kurikulum ke depan bagi dunia pendidikan.


1.2  Rumusan Masalah
Makalah ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut.
1) Apa saja peranan kurikulum dalam pembelajaran?
2) Model pengembangan kurikulum apa saja yang dapat diterapkan?


1.3  Tujuan
Tujuan makalah ini sebagai berikut.
1) Menjelaskan peranan kurikulum dalam pembelajaran
2) Menjelaskan model pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan


2.  Pembahasan
2.1  Peranan Kurikulum dalam Pembelajaran
            Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang telah direncanakan untuk mengemban peranan bagi pendidikan siswa. Berdasarkan analisa dari sifat masyarakat dan kebudayaan, sekolah bagi institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, paling tidak akan menjalankan 3 peranan kurikulum yang dinilai sangat penting, yakni: (1) peranan konservatif, (2) peranan kritis dan evaluatif, (3) peranan kreatif.
            Peranan Konservatif berkaitan dengan salah satu tanggungjawab kurikulum, yaitu mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi berikutnya (tirtaraharja,1994). Sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat mempengaruhi dan membina tingkah laku para siswa sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Karena pendidikan hakekatnya berfungsi menjembatani antara para siswa selaku anak didik dengan orang dewasa dalam suatu proses pemberdayaan yang semakin berkembang menjadi lebih kompleks.
            Peranan kritis dan evaluatif berkaitan dengan situasi kebudayaan senantiasa berubah dan bertambah. Karena itu sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai, memilih unsur-unsur kebudayaan yang akan diwariskan. Kurikulum turut aktif berpartisipasi sebagai kontrol sosial yang menekankan pada unsur berpikir kritis.
            Peranan kreatif berkaitan dengan eksistensi kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan senantiasa dapat menciptakan dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang maupun yang akan datang didalam lingkungan masyarakat.
            Ketiganya harus berjalan seimbang dalam arti terdapat keharmonisan di antara ketiganya. Maka kurikulum akan dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa siswa menuju pada budaya masa depan.

1)      Kurikulum dan Pembelajaran
Mac Donald (1965) memandang persekolahan sebagai sebuah sistem (sistem persekolahan) yang terbentuk dari empat sub-sistem, yaitu belajar, mengajar, pembelajaran, dan kurikulum.
Subsistem belajar merupakan proses yang dialami anak didik sebagai hasil terhadap kegiatan mengajar yang dilakukan guru. Mengajar sendiri merupakan upaya guru menciptakan suatu lingkungan yang kondusif untuk terjadinya proses belajar pada diri anak didik. Pembelajaran sebagai subsistem dari keseluruhan pertautan kegiatan yang memungkinkan terjadinya interaksi belajar mengajar. Kurikulum merupakan rencana tertulis yang menjadi pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran dan kurikulum merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Mereka secara konseptual memang berbeda tetapi eksistensinya hampir selalu dalam pertautan dimana yang satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lain. Karena itu pembelajaran tidak akan efektif tanpa kurikulum dan kurikulum tidak akan bermakna tanpa pembelajaran.
Kurikulum dan pembelajaran adalah dua hal yang saling berhubungan, saling ketergantungan meskipun keduanya mempunyai posisi yang berbeda. Dalam bukunya Developing the Curriculum dalam Efendi tahun 2009, Peter F. Olive menggambarkan hubungan antara kurikulum dengan pembelajaran.
(1.) Model Dualistic.
Model dualistic  dari suatu kurikulum adalah keadaan dimana kurikulum dan pembelajaran adalah dua sistem terpisah, tidak bertemu. Perencanaan dan pelaksanaan tidak serasi dan tidak sejalan. Sehingga tidak ada korelasi yang mengaitkan kedua hal tersebut. Hubungan dapat digambarkan sebagai berikut  :







 





(2.) Model Berkaitan
Pada model berkaitan, terdapat hubungan antara kurikulum dan pembelajaran. Di dalam keterkaitan tersebut, ada bagian essensial yang terpadu. Model kaitan tersebut dapat divisualisasikan sebagai berikut :



 








(3.) Model Konsentris
Dalam Model Konsentris, kurikulum dan pembelajaran berhubungan dengan kemungkinan bahwa kurikulum dapat berada dalam ruang lingkup pembelajaran atau sebaliknya, dimana pembelajaran dapat pula berada dalam ruang lingkup kurikulum. Keterlibatan ini terjadi jika salah satu unsur  merupakan subsistem dengan yang lain atau salah satu bergantung dengan yang lain. Model konsentris tersebut dapat divisualisasikan sebagai berikut :


 






 






(4.) Model Sirkuit
Dari keempat model yang dijelaskan oleh Peter F. Olive, Model Sirkuit adalah model kurikulum yang paling erat korelasinya dengan pembelajaran. Tidak hanya sekedar terkait atau menyinggung salah satu aspek, namun model ini menunjukkan hubungan timbal balik antara kurikulum dan pembelajaran. Keduanya saling berpengaruh. Kurikulum berfungsi memberikan keputusan tentang pembelajaran, sebaliknya keputusan tentang pembelajaran akan mempengaruhi peningkatan kurikulum  (sesudah dievaluasi).



















 






           


Berdasarkan keempat model yang menyatakan hubungan antara kurikulumn dengan pembelajaran diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki hubungan yang erat, tiap aspeknya saling mempengaruhi perkembangan masing-masing, serupa tapi tak sama, meskipun keduanya dapat dianalisis secara terpisah, namun fungsinya tidak dapat dipisahkan.


2.2  Model Pengembangan Kurikulum
            Kurikulum sebagai perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara paripurna, khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari perlu dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mempertimbangkan produk yang hendak dicapai, maka dimensi pengembangannya harus mengikuti pola the how bukan the what, yaitu bagaimana muatan yang disusun dalam rancangan pendidikan itu mampu merangkum pengalaman siswa untuk mencapai otonomi intelektuanya, sehingga memberikan kemampuan untuk berpikir secara mandiri dalam memecahkan persoalan baru yang belum pernah diperoleh di sekolah.
Menyimak urgensinya, maka para pengembang kurikulum dalam menyususn kurikulum memperhatikan dua faktor, yaitu kompetensi terminal dan relevansi dengan dunia kerja. Kompetensi terminal yang dimaksudkan, kompetensi untuk mencapai tujuan pendidikan melalui semua aktivitas dan pemgnalaman belajar sehingga peserta dapat mengembangangkan potensi lewat pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan di sekolah. Relevansi dengan dunia kerja dimaksudkan, apa yang dipelajari dibangku sekolah sesuai dengan jenis lapangan kerja yang dicita-citakan serta selaras dengan bakat dan kemampuannya.
Sebagai rancangan pendidikan, kurikulum dalam pengembangannya melibatkan berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung memiliki kepentingan dengan keberadaan pendidikan yang dirancang, yaitu mulai dari ahli pendidikan, ahli bidang studi, guru, siswa, pejabat pendidikan, para praktisi maupun tokoh panutan atau anggota masyarakat lainnya. Berdasarkan kepentingannya kurikulum dapat dikembangkan dalam berbagai variasi model, tiap model memiliki karakteristik yang spesifik yang tidak dimiliki oleh model yang lain.

Model-Model Kurikulum yang lazim digunakan sebagai rencana pendidikan adalah sebagai berikut :

1)      Model Administrasi
            Model administrasi atau line staff dianggap sebagai model yang paling awal dikenal. Disebut line staff karena pada model ini inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat tingkat atas (Superintendent). Pada Model Administrasi, inisiatif rekayasa pengembangan kurikulum menggunakan konsep atau prosedur administrasi dimana administrator atau pejabat pendidikan membentuk komisi pengarah yang bertugas merumuskan konsep dasar dan landasan kebijakan dan strategi utama dalam mengembangkan kurikulum (Sudrajat,2008). Pejabat tersebut membuat keputusan tentang kebutuhan suatu program pengembangan kurikulum dan implementasinya, lalu mengadakan pertemuan dengan staf lini (bawahannya) dan meminta dukungan dari dewan pendidikan (Board of education). Langkah berikutnya adalah membentuk suatu panitia pengarah yang terdiri dari pejabat administratif tingkat atas, seperti asisten superintendent, principals, supervisor, dan guru-guru inti. Panitia pengarah merumuskan rencana umum, mengembangkan panduan kerja, dan menyiapkan rumusan filsafat dan tujuan bagi seluruh sekolah didaerahnya (District). Disamping itu, panitia pengarah dapat mengikutsertakan organisasi diluar sekolah atau tokoh masyarakat sebagai panitia penasehat yang bekerja bersama dengan personel sekolah dalam rangka merumuskan berbagai rencana, petunjuk dan tujuan yang hendak dicapai.
Setelah kebijakan kurikulum dikembangkan, maka panitia pengarah memilih dan menugaskan staf pengajar sebagai panitia pelaksana (panitia kerja) yang bertanggung jawab mengkonstruksikan kurikulum. Panitia im merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum, isi (materi), kegiatan-kegiatan belajar dan sebagainya sesuai dengan pedoman atau acuan kebijakan yang telah ditentukan oleh panitia pengarah. Panitia mengerjakan tugasnya diluar jam kerja biasa dan tidak mendapat kompensasi. Kondisi ini diterapkan karena berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk memahami dengan benar kurikulum dan meningkatkan mutu kurikulum itu sendiri. Selanjutnya, disusu draff  kurikulum yang lebih operasional melalui penjabaran konsep kebijakan dalam tujuan operasional, penyusunan materi, strategi dan evaluasi pembelajaran, disamping itu juga menyusun pedoman umum sebagai petunjuk pelaksanaannya.
Namun ada permasalahan yang sering muncul didalam pemilihan Model Administrasi ini, antara lain: (1) menuntut adanya kesiapan guru sebagai pelaksananya, (2 ) memerlukan internalisasi kurikulum yang dikembangkan, tentunya malalui penataran awal, (3) kecenderungan bersifat searah,  karena adanya sentralisasi  dalam diseminasinya, (4) pada tahun-tahun pertama pelaksanaan, ada monitoring secara intensif dan berkelanjutan tidak dapat dihindarkan.

2)      Model Grass root
           Model Grass Root  atau akar rumput dikembangkan oleh Smith, Stanley & Shores pada tahun 1957. Model Grass Root  berbeda dengan rekayasa model administrasi. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini bersasal dari bawah. Misalnya model ini diawali oleh guru, pembina disekolah dengan mengabaikan metode pembuatan keputusan kelompok secara demokratis dan dimulai dari bagian-bagian yang lemah kemudian diarahkan untuk memperbaiki kurikulum tertentu yang lebih spesifik atau kelas-kelas tertentu. Model ini didasarkan pada pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna pengajaran dikelasnya. Sehingga terdapat perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan Model Administrasi. Karena bila model Administrasi bersifat sentralisasi pada model akar rumput ini bersifat desentralisasi. Hal ini memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia-manusia yang mandiri dan kreatif.

Menurut Agitara tahun 2009, orientasi yang demokratis dari rekayasa ini bertanggung jawab membangkitkan 2 asumsi yang sangat penting yaitu :
1. bahwa kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru dilibatkan secara langsung dengan proses pembuatan dan pengembangannya.
2. bukan hanya para profesional, tetapi murid, orang tua, anggota masyarakat lain harus dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum.Rekayasa ini sangat bertentangan dengan  model administratif, karena inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini berasal dari bawah, dan dilakukan oleh sekelompok atau keseluruhan guru dari suatu sekolah.
Model ini lebih berorientasi kepada sifat demokratis dan desentralisasi dalam pelaksanaannya. Ada dua dalil atau ketentuan yang sebaiknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum ini:
a.       Penerapan kurikulum dapat berhasil bila guru terlibat dalam penyusunan dan pengembangannya 
b.      Melibatkan para ahli, siswa, orang tua dan masyarakat

Ada empat prinsip pengembangan kurikulum dalam model grass root ini antara lain  :
a.       Kurikulum akan berkembang sebagai kewenangan profesional pada pengembangan guru
b.      Kewenangan guru dapat diperbaiki bila dilibatkan dalam revisi masalah kurikulum
c.       Bila guru dalam menentukan tujuan yang akan dicapai dalam menghadapi seleksi, definisi, pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil, mereka perlu dipertimbangkan keterlibatannya.
d.      Mempertemukan kelompok dalam tatap muka agar dapat memahami satu dengan yang lain secara lebih baik untuk mencapai konsensup prinsip dasar, tujuan dan perencanaannya.

3)      Model Demonstrasi
           Model Demonstrasi merupakan prakrasa seorang atau sekelompok guru yang berkerjasama dengan para ahli dengan maksud melakukan perbaikan terhadap kurikulum. Sistematika model ini hampir mirip model grass root, karena idenya berasal dari bawah dan biasanya berskala kecil, karena menyangkut beberapa sekolah serta mencakup satu atau keseluruhan komponen kurikulum.

           Menurut Smith, stanley dan shores (1957 dalam zais, 1976, dalam efendi 2009) ada dua variasi ,model demonstrasi :
a.       Sekelompok guru dari suatu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum yang tujuannya adalah mengadakan penelitian dan pengembangan yang diharapkan dapat digunakkan bagi lingkungan yang lebih luas
b.      Tidak bersifat formal, karena beberapa guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri, dan mencoba menggunakkan hal yang lain dari yang brelaku
            Kebaikan model demonstrasi antara lain :
a.       Sifat kurikulum lebih praktis dan dungsionalis karena langsung dikaitkan dan diterapkan pada kehisupan nyata.
b.      Perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak administrator, dibanding dengan perubahan atau penyempurnaan menyeluruh,
c.       Pengembangan kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat mengatasi permasalahan dokumen yang baik namun hasilnya kurang memadai.
d.      Guru sebagai narasumber atau yang berinisiatif dapat menjadi pendorong adnisistrator untuk mengembangkan program baru.

Meskipun dalam pelaksanaanya tidak menutup kemungkinan terjadi sikap tak acuh dari guru yang tidak terlibat, namun kondisi tersebut dapat ditekan dengan penalaran dan sosialisasi tertentu yang dilakukan semua pihak baik pihak aktif maupun pasif.


4)      Model Beauchamp
           Menurut Beauchamp (dalam Sukmadinata, 2005:30 dalam Herdiana,2009), teori kurikulum secara konseptual berhubungan erat dengan pengembangan teori dan ilmu-ilmu lain. Hal-hal penting dalam pengembangan teori kurikulum adalah penggunaan istilah teknis yang tepat dan konsisten, analistis dan klasifikasi pengetahuan, penggunaan penelitian-penelitian prediktif untuk menambah konsep, generalisasi atau kaidah-kaidah, sebagai prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam menjelaskan fenomena kurikulum. Dalam rekayasa pengembangan kurikulum, Beauchamp secara kritis mengindetifikasi beberapa keputusan yang mendasari rekayasa pengembangan kurikulum diantaranya :
a.       Menetapkan batas lingkup wilayah yang akan dilibatkan dalam kurikulum  tersebut, misal cakupan tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi atau alam satu wilayah negara. Penetapan batas atau lingkup wilayah ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki pengambil kebijakan serta tujuan dari pengembangan kurikulum.
b.      Menyeleksi dan menetapkan anggota yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Dalam hal ini anggota yang terlibat meliputi para ahli pendidikan atau kurikulum, para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, para profesional dalam sistem pendidikan, serta profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
c.       Organisasi dan prosedur perencanaan dalam menetapkan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, evaluasi serta dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum.
d.      Imlementasi kurikulum merupakan program yang paling penting  sebab membutuhkan kesiapan guru, siswa, fasilitator material dan biaya maupun manajerialnya.
e.       Evaluasi kurikulum. Ini memiliki 4 cakupan diantaranya : evaluasi pelaksanaan kurikulum oleh guru, evaluasi desain, evaluasi belajar siswa, evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.

5)      Model hubungan interpersonal dari Roger
           Rekayasa pengembangan kurikulum yang dilakukan roger melalui beberapa tahapan:
a.       Pemilihan target sistem pendidikan. Dalam hal ini pemilihan dapat mengikutsertakan pejabat pendidikan atau administrator.
b.      Melibatkan pengalaman guru dalam kelompok secara intensif.
c.       Mengembangkan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pembelajaran. Hal ini bertujuan agar siswa dapat terjun dalam sketsa rancangan model yang akan digunakan. Sehingga selanjutnya siswa sebagai pelaku sendiri mampu memberikan tanggapan terhadap rancangan tersebut.
d.      Melibatkan orang tua dalam kegiatan kelompok secara intensif.
Dalam hal ini roger menyarankan sedapat mungkin adanya pengalaman kegiatan kelompok yang bersifat campuran, karena kegiatan ini merupakan kulminasi dari semua kegiatan kelompok diatas.

6)      Model Tyler
           Sebelum merencanakan suatu model kurikulum, Ralph W Tyler merumuskan empat pertanyaan mendasar yang harus terjawab dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:
a.       What educational purpose should the school seek to attain? à Apa tujuan pendidikan yang harus dicapai di sekolah?
b.      What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes? à Apa pengalaman pendidikan yang dapat disediakan jika kita mencapai tujuan tersebut?
c.       How can these educational experiences be effectively organized? à Bagaimana pengalaman pendidikan dapat diorganisir secara efektif?
d.      How can we determine whether these purposes are being attained? à Bagaimana kita mampu memutuskan apakan tujuan ini telah tercapai?

Dari keempat pertanyaan mendasar tersebut, disusunlah langkah-langkah pengembangan kurikulum model Tyler adalah sebagai berikut:
a.       Menentukan tujuan. Dalam menentukan tujuan pendidikan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) mempelajari siswa sebagai sumber tujuan. (2) mempelajari kehidupan kontemporer dilingkungan masyarakat, ( 3) penentuan tujuan berdasarkan tinjauan filosofis, (4) peninjauan tujuan berdasarkan tinjauan psikologis.
b.      Menentukan pengalaman belajar. Ada 5 prinsip pengalaman belajar, yaitu : (1) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbuat tingkah laku yang menjadi tujuan, (2) pengalaman belajar harus menyenangkan bagi siswa, (3) siswa harus terlibat dalam belajar, (4) diberikan beberapa pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pendidikan, (5) pengalaman belajar yang disediakan dapat menghasilkan beberapa kemampuan, yaitu: kemampuan berfikir, memperoleh informasi, mengembangkan sikap sosial, mengembangkan minat.
c.       Pengorganisasian pengalaman belajar
d.      Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui hasil belajar sisa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dan mengetahui kelemahan dan kekuatan program kurikulum.

7)      Model Inverted dari Taba
           Model Inverted dari Hilda Taba cenderung bersifat sederhana.  Secara garis besar langkah-langkah pengembangan kurikulum hilda taba pada dasarnya mengikuti cara-cara yang lazim dilakukan melalui urutan :
a.       Menentukan tujuan pendidikan.
Langkah-langkah dalam menentukan tujuan pendidikan:
-          Merumuskan tujuan umum
-          Mengklasifikasikan tujuan
-          Merinci tujuan berupa pengetahuan, ber[ikir nilai-nilai dan sikap, emosi dan perasaan, ketrampilan
-          Merumuskan tujuan dalam bentuk yang spesifik
b.      Menseleksi pengalaman belajar.
Untuk menseleksi pengalaman belajar dapat dilakukan dengan melihat :
-          Relevansi dengan kenyataan sosial
-          Balance (keseimbangan) ruang lingkup dan kedalaman
-          Penentuan pengalaman belajar yang luas serta beraneka ragam
-          Penyesuaian dengan pengalaman serta kebutuhan dan minat siswa.
c.       Mengoganisasi bahan kurikulum kegiatan belajar
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
-          Menentukan organisasi kurikulum, menentukan urutan, mengusahakan integrasi, menentukan fokus pelajaran.
d.      Evaluasi hasil kurikulum
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
-          Menentukan kriteria penilaian
-          Menyusun program evaluasi komprehensif
-          Teknik mengumpulkan data
-          Interpretasi data evaluasi
-          Menterjemahkan evaluasi kedalam kurikulum
            Untuk pembaharuan kurikulum Taba menganjurkan cara yang berbeda dengan yang lazim digunakan untuk mengembangkan kurikulum umumnya. Menurut Taba tahapan-tahapan yang harus dilalui sebagai berikut:
-          Tahap pertama, penyusunan satuan pelajaran bersama sekelompok guru. Tujuannya agar materi yang diujicobakan tidak langsung ke komposisi yang besar. Melainkan dilihat terlebih dahulu perkembangannya untuk selanjutnya diapresiasi ke wilayah yang lebih luas.
-          Tahap kedua, melakukan pengujian eksperimen.
Pada tahap ini, variabel bebas seperti cara guru menyampaikan pelajaran harus distandarisasi agar menekan perubahan fluktuatif yang mempengaruhi hasil pengujian.
-          Tahap ketiga, melakukan revisi dan konsolidasi
Setelah dilakukan uji coba dan revisi, diadakanlah pemerataan dari suatu sampel percobaan yang selanjutnya dicoba diterapkan pada sampel yang lebih luas dengan pengaturan tertentu dan pengawasan ahli.
-          Tahap keempat, mengembangkan kerangka kerja
Ada dua hal yang penting dalam tahap ini yakni cakupan (scope) dan uruan (sequence). Cakupan berperan sebagai alat ukur apakah satuan pengajaran sudah layak untuk diberikan pada kelas teretntu, sedangkan urutan berperan sebagai alat ukur apakah alur pengajaran sudah logis dan tidak melompat dari struktur.
-          Tahap kelima, melakukan perakitan (instalasi dan deseminasi)


2.3  Model Pembelajaran
            Model pembelajaran inovatif untuk membelajarkan siswa.
a.       Pembelajaran kontekstual
            Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna, yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajar, dan sekaligus memperhatikan kebutuhan individual siswa dan peran guru. Karena itulah pedekatan pembelajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal berikut:
a)      Problem based learning, merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Cakupan pendekatan ini meliputi pengumpulan informasi berkaitan dengan pertanyaan, sintesa, dan presentasi penemuan kepada orang lain (Moffit, 2001 dalam efendi 2009).
b)      Authentic instruction, yaitu pendekatan pembelajaran yang memperkenalkan siswa untuk mempelajari konteks yang bermakna. Suatu konteks dapat menjadi jawaban dari beberapa masalah yang terkait atau memiliki kemiripan. Sehingga dengan mempelajari authentic instruction siswa dapat mengembangkan ketrampilan berpikir majemuk dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan sehari-hari.
c)      Project based learning, yaitu suatu pendekatan pembelajaran secara komprehensif, dengan mendesain kelas sebagai lingkungan belajar dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik, dengan memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk pembelajaran dan mengkulminasikan dalam produk nyata.
d)     Work based learning, yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan mengimplementasikan materi di tempat kerja atau sejenisnya (Smith, 2001 dalam efendi 2009). Jadi dalam pendekatan work based learning  ini, suatu masalah dapat diwakili oleh suatu simulasi masalah. Siswa dituntut melakukan penyelesaian terhadap simulasi masalah tersebut sehingga diharapkan berikutnya siswa dapat mengimplementasikannya pada masalah sesungguhnya di kehidupan sehari-hari.
e)      Inquiry based learning, yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
f)       Service learning,yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang memerlukan penggunaan kombinasi metodologi jasa layanan masyarakat dan pembelajaran akademis, artinya pengetahuan atau ketrampilan baru yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan layanan di masyarakat dilakukan melalui tugas terstruktur/proyek (McPherson, 2001 dalam Efendi 2009).
g)      Cooperative learning, yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang dilakukan melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Holubec, 2001 dalam Efendi 2009).
Sehubungan dengan kebutuhan individual siswa, maka untuk mengimplementasikan pendekatan pembelajaran kontekstual ini guru harus memperhatikan hal-hal berikut: (1) merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa (developmentally approach), (2) membentuk grup belajar yang saling tergantung (interdependent learning group), (3) menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran yang mandiri (self regulated learning) yang memiliki 3 karakteristik umum, yaitu kesadaran berpikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan (Depdiknas, 2002 dalam efendi 2009).

b.      Pembelajaran berbasis masalah
            Belajar berbasis masalah (problem-based learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang mendasar dari materi yang dipelajari. Dalam hal ini, siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan ketrampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesakan, dan mempresentasikan temuannya kepada orang lain (Moffitt, 2001 dalam Efendi 2009).
            Strategi Problem Based Learning secara umum memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu sebagai berikut: pengkajian pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya. Belajar berbasis masalah yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang mendasar dari materi pelajaran. Problem based learning (PBL) memiliki karakteristik dimana siswa diberikan suatu permasalahan terstruktur untuk dipecahkan.
            Salah satu hambatan yang sering terjadi dalam problem based learning adalah kurang terbiasanya peserta didik dan guru dengan metode ini. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu. Salah satu keuntungan dari metode ini, yaitu siswa didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimilikinya, selanjutnya mengembangkan ketrampilan pembelajaran yang lebih independen. Hal ini sekaligus menjadi acuan untuk pembelajaran seumur hidup, sebab ketrampilan yang dimiliki dapat ditransfer ke sejumlah topik pembelajaran yang lain, baik di dalam maupun di luar sekolah.
            Efektivitas ciri kelas yang mampu menerapkan problem based learning itu, antara lain: (1) pengajaran diwadahi oleh kurikulum yang telah diprogramkan sebelumnya, (2) tingginya harapan siswa melalui kegiatan belajarnya, (3) siswa secara cermat dan rajin memperhatikan pelajarannya, (4) intruksi yang disampaikan jelas dan terfokus, (5) kemajuan belajar dipantau secara tak tampak, (6) jika siswa belum mengerti, pembelajaran diulang, (7) waktu belajar hanya untuk belajar,(8) kelas nyaman untuk belajar, (9) kelompok belajar dibentuk dikelas sesuai dengan kebutuhan pengajaran, (10) standar perilaku kelas tinggi, (11) interaksi pribadi antara guru dan murid tinggi, dan (12) adanya pemberian insentif atau hadiah bagi yang memperoleh keberhasilan belajar (Richard dan Nunan, 1990 dalam Efendi 2009).

c.       Pembelajaran kooperatif
            Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang dirancang secara berkelompok, dimana siswa belajar bersama dan saling membantu dalam membuat diantara  anggota kelompok. Tujuan utama pembelajaran kooperatif adalah untuk menciptakan suatu situasi dimana keberhasilan dapat tercapai bila siswa lain juga mencapai tujuan tersebut.
Menurut suyanto  (2008) ada lima prinsip mendasari pembelajaran kooperatif yaitu :
a)      Saling tergantung secara positif
b)      Semua anggota berinteraksi dan saling berhadapan
c)      Setiap anggota harus belajar dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhasilan kelompok
d)     Keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi diperlukan
e)      Siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif:
a)      Hasil kerja adalah hasil kelompok
b)      Penghargaan adalah untuk kelompok bukan perorangan
c)      Setiap anggota mempunyai peran/tugas yang merupakan bagian dari tugas kelompok
d)     Antar anggota saling memberi dorongan dan saling membantu
e)      Guru memberi feedback untuk kelompok
f)       Semua anggota kelompok bertanggung jawab atas tugas kelompoknya
            Beberapa macam pembelajaran kooperatif, antara lain:
a)      Numbered Head together (NHT)
Langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif  NHT:
Ø  Guru meminta siswa membentuk sebuah kelompok
Ø  Masing-masing kelompok terdiri atas 4 orang  dan mendapatkan nomor 1,2,3,4
Ø  Kemudian guru menyanyakan beberapa pertanyaan
Ø  Anggota kelompok kemudian berdiskusi dan menyakinikan bahwa masing-masing anggota kelompok mengetahui jawabannya
Ø  Selanjutnya guru menyebutkan sebuah nomor, dan meminta anggota masing-masing kelompok yang memiliki nomor tersebut untuk menyawab pertanyaan tersebut
b)      Think pair share
Ø  Guru memberikan sebuah topik kepada siswa
Ø  Masing-masing siswa kemudian memikirkan jawabannya sendiri
Ø  Kemudian siswa berpasang-pasangan dan masing-masing pasangan mendiskusikan sebuah topik tersebut
Ø  Selanjutnya pasangan-pasangan tersebut berbagi pendapat dengan semua anggota kelas lainnya.
c)      JIGSAW
Langkah-langkah untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model JIGSAW:
Ø  Siswa dibagi menjadi beberapa anggota kelompok belajar secara heterogen, misalnya kelompok A,B,C,D
Ø  Masing0masing kelompok ditunjuk menjadi ahli tentang bidang tertentu dari materi, misalnya X, Y, Z, dan N
Ø  Siswa-siswa dari kelompok  A, B, C, D  yang ditunjuk Expert tentang X selanjutnya berkumpul, belajar bersama tentang materi X sehingga menjadi ekspert tentang X. Demikian pula dengan anggota lainnya yang ditugaskan menjadi ekspert tentang materi lainnya.
Ø  Setelah diskusi dalam kelompok ekspert ini selesai, para ahli ini kembali ke kelompoknya semua yaitu A, B, C, D dan memberikan penjelasan kepada anggota lainnya didalam kelompok materi yang dikuasainya dan mendengarkan dari ahli lainnya tentang materi lainnya pula.
d)     STAD
Langkah-langkah untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD, sebagai berikut :
Ø  Guru menyajikan materi pelajaran.
Ø  Siswa kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 anggota yang heterogen
Ø  Kelompok membantu masing-masing anggota kelompok untuk menguasai materi tersebut
Ø  Siswa kemudian mengambil kuis-kuis individual. Skor kuis siswa dibandingkan dengan nilai rata-rata mereka dimasa lalu. Nilai kemudian diberikan atas dasar sejauh mana sisa dapat mencapai atau melebihi yang elah mereka peroleh dimasa lalu. Nilai-nilai ini kemudian dijumlahkan untuk membentuk skor tim.
Ø  Kemudian tim yang mencapai kriteria tertentu memperoleh hadiah. Sistem ini memberikan kesempatan yang sama pada siswa untuk menyumbangkan nilai-nilai maksimum pada kelompoknya

3.   Penutup
3.1  Kesimpulan
Peranan kurikulum dalam pembelajaran meliputi peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, serta peranan kreatif. Peranan konservatif yaitu peranan pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Peranan kritis atau evaluatif yaitu memilah kebudayaan dan mempertahankan yang baik, serta mempertimbangkan kembali kebudayaan yang sudah dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sedangkan peranan kreatif berkenaan dengan kreasi manusia menciptakan sesuatu secara dinamis yang terus berkembang selama peradaban dan pendidikan masih ada.
Model pengembangan kurikulum yang dapat digunakan meliputi model administrasi, model grass root, model demonstrasi, model Beauchamp, model hubungan Interpersonal dari Roger, model Tyler, serta model Inverted dari Taba. Model administrasi rencananya berasal dari pejabat, model grass root serta demonstrasi memiliki kemiripan dengan rencana yang berasal dari pendidik, model Beauchamp menelaah erdasarkan langkah-langkah tertentu, model hubungan Interpersonal dari Roger menitikberatkan pada kegiatan kelompok campuran, model Tyler berdasar pada empat pertanyaan pendidikan, dan model Inverted dari Taba menekankan pada kesederhanaan prosedur.

3.2  Saran
1) Bagi semua pelaku pembuat kurikulum
  • Diharapkan mampu bersikap kooperatif dalam menyikapi perbedaan pandangan serta hubungan timbal balik antara kurikulum dan pembelajaran.

Tidak ada komentar: